Kamis, 19 April 2018

Terjatuh di Lubang yang sama

Terjatuh di Lubang yang sama



Malam itu kami ditugaskan untuk mengikuti pelatihan kurikulum 2013 di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), pelatihan ini terbuka untuk masing-masing guru CLC di wilayah Sabah, aku bersama Pengeleola CLC kami namanya pak Ito nama lengkapnya susmin ito beliau adalah guru tahap 6 yang ditugaskan di Prolific beliau lebih senior dari aku, beliau sering membantuku saat pertama aku datang di negeri sabah ini, kami janjian bertemu di Batu 32 Check Point sebuah lokasi persimpangan yang menghubungkan tiga kota besar di Sabah (Tawau, Kota Kinabalu dan Sandakan) tujuan kami menunggu di batu 32 Check Point adalah agar memudahkan kami dalam mendapatkan bas karena selain bas yang dari tawau bas yang dari sandakan pun lewat batu 32 Check Poin, Dari gate andum saya menunggu Lori (Truk Besar pengangkut Biji Sawit) berharap ada Lori yang lewat batu 32 Check Poin, karena sudah tidak mungkin ada kendaraan yang bisa mengantar saya pergi ke check poin, setelah lama aku menunggu akhirnya ada lori yang lewat, aku menghadang lori tersebut dengan melambaikan tangan tepat berada didepan lori,
“Pak cik, mau ke tawau kah?” tanyaku ke Driver Lori
“Iya cikgu, ini mau ke tawau” jawab driver lori
“Boleh ka saya ikut?” tanyaku
“Boleh cikgu, naiklah” jawabnya
Ukuran lori yang sangat besar membuatku agak kesusahan naik ke atas, di tambah barang bawaanku yang lumayan banyak, melihatku yang kesusahan naik Lori, ada pak cik Penjaga gate yang menwarkan bantuan
“Bole kah cikgu naik tu lori?” tanya nya
“Susah pakcik, apalgi barang bawaan saya banyak” jawabku,
“mari saya bantu cikgu” pakcik penjaga gate menawarkan
“Terimakasi pak cik” sahutku
Badan saya di dorong naik ke atas kemudian barang bawaanku di angkatnya dan di masukkan ke dalam lori,
“Terimakasih pakcik” Jawabku kepada pakcik yang sudah menolongku
“sama-sama cikgu, hati-hati ya cikgu” jawabnya
“Kita mau kemana cikgu?” pakcik Driver lori tanya, (Dalam bahasa bugis kita sama dengan kamu)
“Saya mau ke batu 32 check poin pakcik” jawabku
“mau ada acara apa cikgu?” tanyanya lagi
“Ini ada pelatihan di KK pakcik” jawabku lagi
“Ouh ke KK” sahutnya lagi
“Iya pakcik” Jawabku lagi
Jarak ladang Andum ke batu 32 check poin cukup dekat, memakan waktu sekitar 15 menit saja, tidak lama kemudian aku sampai batu 32 Check Poin, pak ito sudah menunggu disana aku langsung datang menghampiri pak ito, kami berdua menunggu bas cukup lama Dan  kami memutuskan untuk makan di Restoran Sri Sentosa yang ada di batu 32 Check Point,
“Ini masih ada waktu untuk makan dulu pak” kata pak ito, “Iya pak” saya menyahut,
“Kita mau makan dimana pak?” tanya pak ito,
“Bagaimana kalau kita makan, di restoran bawah samping jalan itu pak?” jawabku
“Oke pak, disana juga pemberhentian bas pak, jadi nanti kalau bas lewat kita bisa langsung naik disana” jawabnya lagi
Suasana pada malam itu sungguh sangat dingin, sehingga kalau minum yang panas akan terasa sedap dan nikmat aku memutuskan untuk memesan tea tarik (Teh Susu Panas), jam sudah menunjukkan jam 22.14 dan belum nampak juga bas yang lewat, padahal kami di restoran sudah cukup lama sekitar jam 21.05  kami sudah masuk restoran, karena minuman kami sudah habis dan bas belum juga nampak akhirnya kami memtuskan untuk memesan kembali makanan ringan, Sepotong kue hangat. Lama kami menunggu dan belum ada juga jam sudah menunjukkan jam 23.01 akhirnya pak ito memutuskan untuk menunggu bas di jalan raya, di sebuah bas stop (Halte) yang sudah gelap karena penerangan tidak ada di kawasan itu.
“Mari kita tunggu di bas stop ini pak, nanti kalau ada bas pasti akan berhenti disini” Pak ito menyarankan
“Oke pak, kita tunggu disini” tapi disini gelap pak, apakah nanti bas bisa lihat kita nunggu disini?” tanyaku
“Pasti lihat pak, tenang saja” pak ito meyakinkan
“baiklah pak” jawabku
Semabari menunggu bas kita menghabiskan waktu dengan ngobrol panjang lebar, tentang pengalaman pak ito selama berada di sabah, terdengar suara kendaraan lewat dan memberi sinyal lampu, akhirnya basnya datang juga, kami bergegas untuk ikut bas itu, tapi karena terlalu gelap disitu sepertinya driver bas tidak melihat kami sedang menunggu, pak ito lari mengejar bas itu dan aku menyiapkan barang yang akan kami bawa, terdengar suara jatuh “Broak”
“Kenapa pak ito?” tanyaku
“Saya jatuh pak, hati-hati pak disitu ada parit” pak ito sambil menunjuk parit itu, pak ito sambil berlalu dan terus mengejar bas itu
Aku pun hati-hati dan mencari dimana letak paritnya, alih-alih menghindari parit itu, “Gubrak” saya pun jatuh di parit yang sama dengan pak ito, Sakit sekali hikz hikz, saya sambil melihat pak ito yang terus mengejar bas itu, bas itupun berhenti, dan menurunkan penumpang dan langsung berlalu tanpa menunggu kami, ternyata benar bas itu tidak melihat kami sedang menunggu, sayapun menceritakan sama pak ito kalau saya juga jatuh di parit yang sama, kami berdua tertawa terbahak-bahak, bodohnya diriku yang tak belajar dari pengalaman, hahaha

Terjatuh di Lubang yang sama
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

Untuk menyisipkan kode pendek, gunakan <i rel="code"> ... KODE ... </i>
Untuk menyisipkan kode panjang, gunakan <i rel="pre"> ... KODE ... </i>
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>