Kamis, 22 Maret 2018

MUSIK TIDA HANYA ASIK TAPI MENDIDIK

MUSIK TIDA HANYA ASIK TAPI MENDIDIK


Musik adalah bahasa yang universal. Namun dalam dunia pendidikan, musik masih menempati second class dan masih kalah bergengsi dengan pelajaran lainya seperti matematika.

Padahal keterampilan memainkan alat musik bagi seorang anak dapat mennjadi salah satu indikator kecerdasan seorang anak. Anak yang pandai bermusik berarti mampu mengoptimalkan potensi otak kanannya. Otak kanan (right hemispere) berdasar pada spontanitas dan pengendalian fungsi mental. Misalnya emosi, intuisi, hubungan ruang dan dimensi, pemikiran devergen, gambar, musik dan irama, gerak dan tari. Sementara otak kiri (left hemisphere) merupakan pusat pengendali fungsi intelektualitas. Misalnya logika, daya analitis, daya ingat, pemikiran konvergen, bahas, perhitungan.

Musik dapat digunakan untuk menyeimbangkan otak kanandenagn otak kiri. Dan keseimbangan antara kedua bagian otak tersebut dapat mempengaruhi kecerdasan seorang anak.

Seorang biofisikawan dari sekolah musik di Providence, rhode island yang bernama martin garinder menyimpulkan bahwa pendidikan kesenian dapat berinteraksi dengan kecepatan seseorang menyerap mata pelajaran lainya, misalnya menulis, membaca, maupun menghitung. Pernyataan itu didapatkannya dari penelitian terhadap 96 anak sekolah yang berusia antara lima sampai tujuh (5-7) tahun empat puluh delapan (48) siswa pertama diikutkan dalam pelajaran ekstra tentang musik dan seni visual. Sedangkan 48 siswa sisanya hanya mengikuti pelajaran musik dan menggambar sesuai kurikulum standar.

Pada tahun yang pertama ke 48 siswa yang mendapatkan pelajaran ekstra musik itu belajar untuk bernyanyi dalam paduan suara sekaligus melatih ketepatan menembak nada dan irama. Pelajaran itu menjadi pelajaran yang menyenangkan bagi mereka, sekaligus melatih kepekaan emosional mereka. Kemudian pada tahun kedua grinder memberikan kepada mereka pelajaran membaca partitur not balok.

Dari penelitiannya selama dua tahun itu, secara mengejutkan garinder menemukan peningkatan kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang pesat kepada 48 siswa yang mendapatkan jam ekstra, dan hebatnya lagi hal tersebut terjadi kepada seluruh anak-anak baik yang tingkat kecerdasannya kurang maupaun pas-pasan. Di lain pihak, pada anak-anak yang tidak mendapatkan jam ekstra garinder tidak menemukan perkembangan yang berarti dalam hal membaca, menulis, dan berhitung, apalagi jika dibandingkan dengan mereka yang mendapatkan jam ekstra musik. (Krinamurti, 2001)

Ada satu hal yang luput dari perhatian kita, bahwa musik dapat bermanfaat untuk perkembangan seorang anak. Di saat semua pakar pendidikan berdiskusi dan berwacana tentang pengembangan karakter peserta didik, mereka melupakan musik. Sebagian pakar pendidikan, birokrat dan orang tua bagaikan berkacamata kuda memandang bahwa pendidikan moral keagamaanlah yang dapat mengembangkan karakter seorang anak. Mereka melupakan bahkan mengabaikan musik.

courtesy : mata air
MUSIK TIDA HANYA ASIK TAPI MENDIDIK
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

Untuk menyisipkan kode pendek, gunakan <i rel="code"> ... KODE ... </i>
Untuk menyisipkan kode panjang, gunakan <i rel="pre"> ... KODE ... </i>
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>