Kamis, 22 Maret 2018

LEMBAR KERJA SISWA: Antara Kreatif dan Pasif

LEMBAR KERJA SISWA: Antara Kreatif dan Pasif


Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. LKS biasanya berupa petunjuk, langkah untuk menyelesaikan suatu tugas, suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya. (Depdiknas; 2004;18) Lembar Kegiatan Siswa (LKS) merupakan suatu bahan ajar cetak berupa lembaran berisi tugas yang di dalamnya berisi petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan tugas. LKS dapat berupa panduan untuk latihan pengembangan aspek kognitif maupun panduan untuk pengembangan semua aspek pembelajaran dalam bentuk panduan eksperimen dan demonstrasi (Trianto, 2007:73). Sedangkan menurut Sutanto (2009) Lembar Kegiatan Siswa merupakan materi ajar yang dikemas sedemikian rupa agar siswa dapat mempelajari materi tersebut secara mandiri. Pengertian LKS yang dikemukakan oleh Badjo (1993:8) yaitu LKS ialah lembar kerja yang berisi informasi dan perintah/instruksi dari guru kepada siswa untuk mengerjakan suatu kegiatan belajar dalam bentuk kerja, praktek, atau dalam bentuk penerapan hasil belajar untuk mencapai suatu tujuan. Kemudian menurut Hidayah (2008:7) menjelaskan bahwa LKS merupakan stimulus atau bimbingan guru dalam pembelajaran yang akan disajikan secara tertulis sehingga dalam penulisannya perlu memperhatikan kriteria media grafis sebagai media visual untuk menarik perhatian peserta didik. Sedangkan isi pesan LKS harus memperhatikan unsur-unsur penulisan media grafis, hirarki materi (matematika) dan pemilihan pertanyaan-pertanyaan sebagai stimulus yang efisien dan efektif. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa LKS merupakan seperangkat tugas yang berupa lembaran yang didalamnya memuat petunjuki serta langkah-langkah dalam mengerjakan. Tujuan dan Manfaat Pembelajaran Menggunakan LKS Lembar Kerja Siswa Depdiknas dalam panduan pelaksanaan materi pembelajaran SMP (2008:42-45) alternatif tujuan pengemasan materi dalam bentuk LKS adalah : LKS membantu siswa untuk menemukan suatu konsep LKS mengetengahkan terlebih dahulu suatu fenomena yang bersifat konkrit, sederhana, dan berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari. LKS memuat apa yang (harus) dilakukan siswa meliputi melakukan, mengamati, dan menganalisis. LKS membantu siswa menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep yang telah ditemukan LKS berfungsi sebagai penuntun belajar LKS berisi pertanyaan atau isian yang jawabannya ada di dalam buku. Siswa akan dapat mengerjakan LKS tersebut jika membaca buku. LKS berfungsi sebagai penguatan LKS berfungsi sebagai petunjuk praktikum Menurut Darmojo dan Kaligis (1991:40) mengajar dengan menggunakan LKS dalam proses belajar mengajar memberikan manfaat, diantara lain memudahkan guru dalam mengelola proses belajar mengajar, misalnya dalam mengubah kondisi belajar yang semula berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada siswa (student centered). Pada proses pembelajaran yang berpusat pada guru akan terjadi interaksi satu arah dimana guru menerangkan, mendikte, dan memerintahkan, sedangkan siswa hanya akan mendengar, mencatat dan mematuhi semua perintah guru. Pada proses pembelajaran yang berpusat pada siswa akan terjadi interaksi antara siswa dengan guru, dan antarsiswa karena dalam pola ini siswa memperoleh informasi dari berbagai sumber, misalnya dari perpustakaan, luar sekolah atau pengamatannya sendiri. Manfaat LKS Lembar kegiatan siswa lainnya adalah dapat membantu guru dalam mengarahkan siswanya untuk dapat menemukan konsep-konsep melalui aktivitasnya sendiri atau dalam kelompok kerja. Selain itu, LKS juga dapat digunakan untuk mengembangkan ketrampilan proses, mengembangkan sikap ilmiah serta membangkitkan minat siswa terhadap alam sekitarnya. Akhirnya LKS juga memudahkan guru untuk melihat keberhasilan siswa dalam mencapai sasaran belajar. Memang, sejak adanya LKS di sekolah, efektifitas pengajaran guru semakin meningkat. Guru tinggal menerangkan pokok-pokok pembahasan yang ada dalam sebuah bahasan. Guru juga dapat mengembangkan materi dengan materi-materi tambahan yang dibaca oleh guru tersebut (tergantung sejauh mana kreatifitas guru itu). Dengan adanya LKS, siswa dituntut untuk lebih sering berlatih, berlatih, dan berlatih. Siswa jadi lebih terasah aspek kognitifnya dengan adanya latihan-latihan mandiri yang terdapat di dalam buku LKS. Di sisi lain, ada kelemahan-kelemahan dengan adanya LKS. Jika seorang guru tidak dapat masuk kelas (dengan berbagai alasannya), guru tinggal telpon atau sms ”Maaf, saya tidak bisa masuk, tolong sampaikan kepada anak kelas…… untuk mengerjakan tugas halaman sekian sampai sekian. Terima kasih”. Seorang guru yang profesional dan kompeten di bidangnya, ketika mengajar dengan menggunakan LKS dia tidak akan terpaku pada apa yang ada dalam LKS tersebut. Dia akan berusaha menambah dan memperluas wawasan sebagaimana yang telah dicanangkan dalam kurikulum. Namun sebaliknya, guru yang tidak kreatif hanya akan berpegang teguh pada apa yang ada dalam LKS yang dia gunakan, tanpa adanya upaya untuk mengembangkan dan menambah wawasan terhadap materi yang diajarkan. Sampai-sampai guru tidak bisa mengajar tanpa LKS, guru begitu mendewakan LKS, Jika ini terjadi, bagaimana jika kebetulan dalam suatu semester materi guru tersebut tidak ada LKS-nya? Lha apa gunanya sertifikasi guru profesional itu diadakan? Dalam observasi dilapangan banyak pembuat LKS yang kompetensinya tidak match dengan LKS yang dibuat, bahkan ada beberapa pembuat LKS yang hanya lulusan SMA yang tidak memahami LKS itu sendiri, pembuat LKS hanya mengumpulkan LKS-LKS yang telah dibuat untuk kemudian di copy di LKS yang akan dia buat, tentu saja hal itu tidak sesuai kurikulum yang berlaku, kurikulum KTSP ataupun kurikulum 2013 mensyaratkan guru harus mampu mengembangkan model pembelajaran sampai evaluasi pembelajaran termasuk didalamnya mengembangkan materi ajar, pemerintah juga sudah menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk membiayai guru sertifikasi, sertifikasi guru yang diharapkan pemerintah adalah dana untuk mengembangkan proses pembelajaran dan bukan dana untuk kesejahteraan guru, jadi tidak ada alasan untuk tidak mengembangkan perangkat pembelajaran sendiri, Kompetensi guru sebenarnya sudah cukup baik, hal itu dapat dilihat dari syarat-syarat guru yang minimal harus sarjana (S1) dan pada pemberian sertifikasi guru pemerintah sudah memberikan tes yang cukup susah, dan tidak semua guru bisa lulus dalam tes tersebut, hal ini menunjukkan guru sertifikasi adalah guru-guru professional terpilih yang mampu mengemban tanggung jawab sebagai seorang guru professional. Lalu pantaskah guru sertifikasi ini masih menggunakan LKS?
LEMBAR KERJA SISWA: Antara Kreatif dan Pasif
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

Untuk menyisipkan kode pendek, gunakan <i rel="code"> ... KODE ... </i>
Untuk menyisipkan kode panjang, gunakan <i rel="pre"> ... KODE ... </i>
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>