Kamis, 22 Maret 2018

Harapan itu masih ada

Harapan itu masih ada


Di kesunyian, dan di dinginya fajar alarm berbunyi. musik alarm mengalun merdu, terdengar bersemangat berjudul Sang Pemimpi. Mataku yang tadinya terpejam kini sedikit terbuka, pertanda mimpi indah malam ini telah usai. Jam menunjukkan pukul 05.10. Aku masih tetap terbaring, bukan berarti malas. Kuhayati setiap lirik dan irama musik yang kudengarkan, penuh dengan makna. Aku masih terbaring, kukumpulkan semangatku saat itu. Musik reff terdengar, semangatku semakin berkumpul. Ku terbangun dan langsung kubuka jendela kamarku. Angin pagi berhembus dingin menyegarkan seperti menusuk tulang, walaupun memang masih gelap. Bibir ini berbisik, ucapan do’a tanda syukurku atas dibangunkannya jasad ini dari alam yang tak kukenal. Aku siap melewati hari ini. Setelah melewati malam penuh kesunyian di bilik kayu, sendiri, sepi, hanya lolongan anjing yang saling bersahutan dan suara burung hantu menambah kecamnya malam, di rumah yang sudah tua ini aku tinggal sendiri, rumah yang sudah lama ditinggalkan oleh pemilik sebelumnya, hanya kasur sisa yang aku gunakan, tanpa lentera atau cahaya lain, karena memang lampu mati semalam, ku kumpulkan semangat dan aku siap menjalani hari ini, kumulai dengan masak untuk sarapan pagi serta bersiap mandi, tak biasanya aku masak dirumah, tapi disini semua kemudahan itu hilang, semua harus mandiri. Semua harus dikerjakan sendiri.
Seperti biasa hari ini aku berangkat lebih pagi, perjalanan 1,5 KM ke sekolah yang harus kutempuh untuk memulai hari, bekerja demi mimpi, demi anak-anak Negeri, dalam perjalanan melewati hutan sawit dengan kabut yang menutupi, seakan berjalan di tengah-tengah awan, kondisi jalan yang rusak dan berbukit harus naik dan turun sampai keringat berpeluh, orang-orang sudah berlalu lalang dengan membawa seperangkat alat kerjanya, Tombak, Sabit dan lain sebagainya, mereka ramah mereka selalu tersenyum dan mereka selalu menegur sapa denganku, aku merasa dihormati dan aku merasa berharga, dari senyuman mereka seakan memberikan kekuatan tersendiri sehingga aku semakin bersemangat, sesekali aku melihat kanan dan kiri dalam perjalanan menuju tempat sekolah, deretan rumah warga yang tersusun rapi, tidak ada perbedaan bangunan, semua sama berderet sambung menyambung menjadi satu, para ibu yang sudah didepan rumah yang juga bersiap untuk bekerja mereka selalu mengucap salam ketika aku lewat, “Selamat Pagi Cikgu” sapa mereka, dengan senyuman aku menjawab “ Selamat Pagi Juga” mau berangkat kerja macik?” Hampir tiap hari aku bertutur sapa dengan warga, warga sangat baik, mereka sangat menerimaku disini, seperti berada dirumah sendiri, padahal ini Borneo, Ini Sabah Bukan Indonesia, Ya bukan indonesia ini di sabah malaysia, Aku bertugas mengajar anak-anak indonesia yang berada di sabah, Sudah tujuh bulan aku disini, mecoba merajuk mimpi bersama anak-anak indonesia yang ada disini, mereka adalah anak-anak pekerja sawit, mereka butuh pendidikan, mereka butuh sekolah demi masa depan.
Jangan pernah membayangkan lengkapnya fasilitas disini, ruang guru yang bercampur menjadi satu dengan ruang kelas siswa, ruang kelas tanpa sekat tanpa pembatas, mulai dari Tadika (setingkat TK), Darjah satu sampai Darjah enam (Setingkat Sekolah Dasar) saat pembelajaran kadang-kadang suara kami saling bersahutan antar guru, kami bertiga guru di Humana Cikgu Lorni dan Cikgu Umi beliau adalah guru asli dari Malaysia yang sama-sama mengajar di satu sekolah, satu guru merangkap beberapa kelas, kelas kami dibagi menjadi tiga, tadika satu dan tadika dua di ajar satu guru kelas satu samapi kelas tiga, kemudian kelas empat sampai kelas enam diajar oleh guru yang berbeda. Kendala terbesar menjadi guru disini adalah bahasa yang berbeda bahasa pengantar itulah yang kadang-kadang membuatku kesulitan dalam

menyampaikan materi, ditambah kurikulum yang berbeda, tugasku mengajar Pendidikan Agama Islam, Matematik dan bahasa inggris untuk tahap 2 (Kelas 4 sampai Kelas 6), tidak ada materi bahasa indonesia, PKn, IPS atau materi lain yang berasal dari indonesia, padahal mereka ini sebagian besar berasal dari indonesia, bagaimana mereka bisa tahu negaranya atau membanggakan negaranya, dengan negaranya sendiri mereka tidak kenal. Tugasku disini adalah untuk membuat mereka mengenal negaranya dan cinta dengan negaranya, dengan menyisipkan materi PKn, IPS dan yang lain dengan materi yang lain dalam pembelajaran.
Kondisi sebelum ada sekolah Banyak dari mereka yang terpaksa bekerja, mereka ikut bekerja di Blok-blok ladang sawit dengan membantu memetik biji sawit, kondisi mereka sangat miris dengan tidak mempunyai dokumen dokumen seperti paspor, akta kelahiran, mereka seperti imigran gelap, mereka selalu bersembunyi dari kejaran polis yang siap menangkap mereka, tidak hanya mereka bahkan orang tua mereka pun tidak punya dokumen, bahkan pernikahan mereka pun “di bawah tangan” tanpa surat resmi dari instansi terkait, mereka hanya dinikahkan oleh seseorang yang mereka sebut imam kampung mereka seperti terjebak dan terperangkap oleh keadaan yang memaksa mereka untuk tetap disana dan tidak bisa kemana mana Kondisi inilah yang terjadi di lapangan, menjadi guru disini harus mampu multi tasking dan multi talented, tidak hanya mengajar saja tapi harus bisa melayani masyarakat indonesia yang berada disini dan mengembalikan mereka ke negara Indonesia, memlaui pendidikan, formula ini dinilai sangat tepat karena akses pendidikanlah yang dapat mengantarkan mereka menggapai cita-citanya dan bisa memutus rantai anak-anak yang tetap tinggal disini.
Humana bukan satu-satunya sekolah yang berada di Ladang ini, disini juga ada CLC (Comunity Learning Center) aku sangat bersyukur ada CLC yang berdiri disini, CLC sepenuhnya pendidikan dengan menggunakan kurikulum Indonesia Semua muridnya juga berasal dari indonesia waktu pembelajaran dilaksanakan setelah pembelajaran di Humana berakhir Dari Pukul 14.00 sampai dengan 17.30 CLC disini setingkat SLTP jangan heran kalau kebanyak dari mereka yang sudah berusia lebih dari 15 tahun mereka ini telat masuk dan berhenti bersekolah, karena mereka banyak yang sudah bekerja yang kemudian bersusah payah untuk kambali sekolah pada awalnya mereka tidak mau sekolah karena bagi mereka sekolah hanya membuang waktu mereka, sekolah tidak akan mengubah nasib mereka, mereka lebih memilih untuk bekerja karena bisa mendapatkan uang yang lebih cepat daripada bersekolah, dengan susah payah usia anak sekolah aku data, aku singgah dari satu rumah ke rumah mengetuk satu pintu ke pintu yang lain untuk mengajak mereka kembali sekolah, sering kali mendapatkan penolakan dari orang tua mereka bahkan dari mereka sendiri, kalau aku menyerah disini bagaimana dengan nasib mereka kedepanya, aku mencoba meyakinkan mereka dan orang tua bagaimana pentingnya pendidikan bagaimana pentingnya masa depan mereka, sedikit demi sedikit usahamu membuahkan hasil diluar dugaan banyak dari mereka yang usianya sudah lewat juga menjadi tertarik untuk ikut sekolah, tapi sayang seribu sayang usia mereka yang membatasi mereka tidak bisa bersekolah reguler di CLC, dan aku arahkan mereka untuk menempuh Paket A Paket B ataupun Paket C, Tahun ini Alhamdulilah 10 Anak Paket A akan mengikuti Ujian dan 2 orang akan mengkiti ujian Paket C, Anak-anak ladang banyak dari mereka yang belum bisa membaca, dan menulis membaca bahkan mereka tidak bisa, kondisi masyarakat ladang yang tidak religius yang menyebabkan semua ini terjadi, orang tua mereka bekerja dari jam lima pagi sampai jam tiga sore,
mereka jauh dari kasih sayang orang tua dan didikan orang tua bicara mereka kasar dan banyak yang tidak menghormati orang tua mereka, kondisi ini harus dirubah untuk
tidak hanya dan menulis beribadahpun mereka belum pandai ini harus dirubah demi pembentukan karakter mereka, setiap hari saat istirahat aku ajak mereka ke mushola untuk praktik sembahyang, sedikit demi sedikit usahaku membuahkan hasil, mereka sekarang banyak yang sudah pandai sembahyang walaupun bacaan masih banyak yang salah, mushola panggung yang diberi nurul iman ini menjadi saksi bisu langkah perubahan hidup mereka, mushola yang sudah sangat tua ini jarang sekali di kunjungi masyarakat, bahkan tak jarang saat waktu sholat tiba mushola ini kosong tidak ada jamaah yang pergi ke mushola, perubahan harus dimulai sedikit demi sedikit dari siswa yang aku ajak setiap hari ke mushola membuat sedikit warga melihat dan ikut serta sholat berjamaah, bahkan sekarang mushola sudah di renovasi dan di cat ulang sehingga terlihat lebih baik dan menarik, sekarang sudah banyak yang ke mushola pada saat jam sembahyang walaupun kebanyakan di penuhi oleh anak-anak CLC.

Indonesia yang kurindukan
Saat pemebalajaran CLC berlangsung seringkali kusisipkan cerita tentang keindahan dan kekayaan indonesia, selalu memberikan motivasi bagi mereka untuk kembali pulang ke indonesia, melalui media gambar dan media Video banyak dari mereka yang tertarik untuk pulang ke negara asalnya, Banyak program yang ditawarkan untuk menggapai cita-cita
mereka salah satunya adalah program Sabah Bridge, Beasiswa SIKK dan Beasiswa Reaptriasi, banyak jalan untuk pulang ke indonesia, banyak cara untuk menggapai cita-cita banyak celah untuk menggapai masa depan yang lebih baik, banyak anak yang sudah kembali ke indonesia melalui jalan itu kebanyakan mereka sekarang sudah di Universitas dalam dan luar negeri, jalan yang membanggakan, Kembalilah nak selalu ada jalan, harapan itu masih ada.
Harapan itu masih ada
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

Untuk menyisipkan kode pendek, gunakan <i rel="code"> ... KODE ... </i>
Untuk menyisipkan kode panjang, gunakan <i rel="pre"> ... KODE ... </i>
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>