Selasa, 27 Maret 2018

EVALUASI PEMERINTAH DUNIA TERHADAP EKSISTENSI SHICHIBUKAI



Menurut Wikia (id.onepiece) Ouka Shichibukai adalah perkumpulan tujuh bajak laut yang sangat kuat dan menyatakan kesepakatanya bekerja di pihak pemerintah dunia demi keuntungan tertentu. Secara umum Shichibukai adalah bajak laut yang dilegalkan pemerintah. Meski sama-sama bekerja untuk pemerintah, namun mereka bukanlah suatu kesatuan dan tidak saling membantu satu sama lain. Shichibukai secara harfiah dapat juga diartikan sebagai tujuh penguasa lautan yang berperan mejaga keseimbangan kekuatan dunia. Bersama angkatan laut dan para Yonko. Ketiganya sering disebut “Tiga kekuatan besar”.
Tujuan dibentuknya Shichibukai oleh pemerintah dunia adalah untuk meringankan tugas dari pemerintah dunia dalam menjaga perdamaian, selain itu pemerintah dunia diuntungkan dengan keanggotaan mereka, karena bajak laut yang sangat kuat itu berada di dalam pihak mereka, Setelah salah satu Anggota dari Shichibukai Jinbei yang membelot dari Yonko Big Mom dan memutuskan bergabung dan menjadi kru Bajak Laut Topi Jerami Pemerintah dunia mulai was-was dengan keberadaan Bajak laut topi jerami, Sang kapten bajak laut topi Jerami Monkey D Luffy sepertinya memiliki bakat tersendiri terhadap shichibukai dan bisa mengalahkan mereka yaitu Crocodile, Gekko Moriah, dan Donquixote Doflamingo, bahkan membuat Boa Hancock jatuh cinta padanya.
Bajak laut Topi Jerami telah menjadi ancaman serius bagi pemerintah dunia, bajak laut Rookie yang menggemparkan dunia dengan nilai bounty yang melejit dengan cepat, bajak laut pemula yang nilai bounty kru nya  diatas 100 juta belly, bahkan nilai Bounty dari kapten dari bajak laut tersebut bernilai 500 juta belly, naiknya nilai bounty tersebut tak lepas dari peran mereka dalam mengalahkan Angkatan laut, pemerintah dunia, dan Shichibukai, bahkan nilai Bounty dari kapten bajak laut topi jerami bisa melonjak dengan tajam, pasalnya baru-baru ini Kapten Monkey D Luffy mengalahkan Charlotte Cracker (Salah satu dari sweet Comander / anak buah yonko big Mom) dengan pertaurang yang sangat panjang sekitar 11 jam yang akhirnya dimenangkan oleh Luffy, Nilai bounty dari Charlotte Cracker adalah 860 Juta bounty, dengan kemenangan ini tidak menutup kemungkinan nilai bounty akan naik tajam setidaknya diatas 800 juta belly.


Pemerintah dunia harus mengambil tindakan tegas terkait masalah yang terjadi di lautan, keseimbangan dan kesetabilan dunia mulai goyah dengan keberadaan bajak laut topi jerami, kondisi ini diperparah dengan perebutan posisi yonko, banyak yang mengejar posisi ini, Yonko pertama yang kalah adalah yonko whiteberad, Bersambung...

Jumat, 23 Maret 2018

METODE, MODEL DAN MEDIA PEMBELAJARAN



METODE PEMBELAJARAN
Metode merupakan salah satu strategi atau cara yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran yang hendak dicapai, semakin tepat metode yang digunakan oleh seorang guru maka pembelajaran akan semakin baik. Metode berasal dari kata methodos dalam bahasa Yunani yang berarti cara atau jalan. Sudjana (2005: 76) berpendapat bahwa metode merupakan perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi pembelajaran bahasa secara teratur, tidak ada satu bagian yang bertentangan, dan semuanya berdasarkan pada suatu pendekatan tertentu. Pendekatan bersifat aksiomatis yaitu pendekatan yang sudah jelas kebenarannya, sedangkan metode bersifat procedural, yaitu pendekatan dengan menerapkan langkah-langkah. Metode bersifat prosedural maksudnya penerapan dalam pembelajaran dikerjakan melalui langkah-langkah yang teratur dan secara bertahap yang dimulai dari penyusunan perencanaan pengajaran, penyajian pengajaran, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar.
Menurut Sangidu (2004: 14) metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memulai pelaksanaan suatu kegiatan penilaian guna mencapai tujuan yang telah ditentukan Sedangkan Menurut M. Sobri Sutikno (2009: 88) Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan. Salamun (dalam Sudrajat, 2009:7) menyatakan bahwa metode pembelajaran ialah sebuah caracara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda dibawah kondisi yang berbeda. Hal itu berarti pemilihan metode
pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang ingin dicapai Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan sebuah perencanaan dan cara-cara menyajikan  yang utuh dan bersistem dalam menyajikan materi pelajaran dan untuk mencapai tujuan (Pemebalajaran).  Metode pembelajaran dilakukan secara teratur dan bertahap dengan cara yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan tertentu dibawah kondisi yang berbeda.

MODEL PEMBELAJARAN

 Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Model tersebut merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai kompetensi/tujuan pembelajaran yang diharapkan. Model pembelajaran adalah pola interaksi siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut pendekatan, strategi, metode, teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Dalam suatu model pembelajaran ditentukan bukan hanya apa yang harus dilakukan guru, akan tetapi menyangkut tahapan-tahapan, prinsip-prinsip reaksi guru dan siswa serta sistem penunjang yang disyaratkan
Menurut Slavin (2010), model pembelajaran adalah suatu acuan kepada suatu pendekatan pembelajaran termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungannya, dan sistem pengelolaanya. Sedangkan menurut Trianto (2009) model pembelajaran merupakan pendekatan yang luas dan menyeluruh serta dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks (pola urutannya), dan sifat lingkungan belajarnya.
 Menurut Arends (dalam Suprijono, 2013: 46) model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang digunakan termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas. Menurut Joice& Weil (dalam Isjoni, 2013: 50) model pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelasnya. Sedangkan Istarani (2011: 1) model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajaryang meliputi segala aspek sebelum, sedang dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar. Dari pendapat ahli diatas,dapat disimpulka bahwa model pembelajaran adalah suatu acuan kepada suatu pendekatan dan pola atau perencanaan yang di rancang untuk menciptakan pembelajaran di kelas secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas

MEDIA PEMBLAJARAN

Media pembelajaran merupakan peralatan yang digunakan oleh guru untuk membantu proses penyampaian materi. Media pembelajaran sangat dibutuhkan untuk membantu mempermudah dalam hal penyampaian materi. Sadiman (2006: 7) mengemukakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Sedangkan Arsyad (2007: 4) menyatakan bahwa media adalah alat yang menyampaikan pesan-pesan pembelajaran.
Menurut Hanafiah & Suhana (2010: 59) media pembelajaran merupakan segala bentuk perangsang dan alat yang disediakan guru untuk mendorang siswa belajar secara cepat, tepat, mudah, benar dan tidak terjadinya verbalisme. Selain pendapat tersebut, Prihatin (2008: 50) menerangkan bahwa media pembelajaran adalah media yang dapat digunakan untuk membantu siswa di dalam memahami dan memperoleh informasi yang dapat didengar ataupun dilihat oleh panca indera sehingga pembelajaran dapat berhasil guna dan berdaya guna. Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala alat fisik yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi kepada siswa guna merangsang siswa agar dapat belajar secara cepat, tepat, mudah, benar dan tidak terjadinya verbalisme sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai

Kamis, 22 Maret 2018

Harapan itu masih ada


Di kesunyian, dan di dinginya fajar alarm berbunyi. musik alarm mengalun merdu, terdengar bersemangat berjudul Sang Pemimpi. Mataku yang tadinya terpejam kini sedikit terbuka, pertanda mimpi indah malam ini telah usai. Jam menunjukkan pukul 05.10. Aku masih tetap terbaring, bukan berarti malas. Kuhayati setiap lirik dan irama musik yang kudengarkan, penuh dengan makna. Aku masih terbaring, kukumpulkan semangatku saat itu. Musik reff terdengar, semangatku semakin berkumpul. Ku terbangun dan langsung kubuka jendela kamarku. Angin pagi berhembus dingin menyegarkan seperti menusuk tulang, walaupun memang masih gelap. Bibir ini berbisik, ucapan do’a tanda syukurku atas dibangunkannya jasad ini dari alam yang tak kukenal. Aku siap melewati hari ini. Setelah melewati malam penuh kesunyian di bilik kayu, sendiri, sepi, hanya lolongan anjing yang saling bersahutan dan suara burung hantu menambah kecamnya malam, di rumah yang sudah tua ini aku tinggal sendiri, rumah yang sudah lama ditinggalkan oleh pemilik sebelumnya, hanya kasur sisa yang aku gunakan, tanpa lentera atau cahaya lain, karena memang lampu mati semalam, ku kumpulkan semangat dan aku siap menjalani hari ini, kumulai dengan masak untuk sarapan pagi serta bersiap mandi, tak biasanya aku masak dirumah, tapi disini semua kemudahan itu hilang, semua harus mandiri. Semua harus dikerjakan sendiri.
Seperti biasa hari ini aku berangkat lebih pagi, perjalanan 1,5 KM ke sekolah yang harus kutempuh untuk memulai hari, bekerja demi mimpi, demi anak-anak Negeri, dalam perjalanan melewati hutan sawit dengan kabut yang menutupi, seakan berjalan di tengah-tengah awan, kondisi jalan yang rusak dan berbukit harus naik dan turun sampai keringat berpeluh, orang-orang sudah berlalu lalang dengan membawa seperangkat alat kerjanya, Tombak, Sabit dan lain sebagainya, mereka ramah mereka selalu tersenyum dan mereka selalu menegur sapa denganku, aku merasa dihormati dan aku merasa berharga, dari senyuman mereka seakan memberikan kekuatan tersendiri sehingga aku semakin bersemangat, sesekali aku melihat kanan dan kiri dalam perjalanan menuju tempat sekolah, deretan rumah warga yang tersusun rapi, tidak ada perbedaan bangunan, semua sama berderet sambung menyambung menjadi satu, para ibu yang sudah didepan rumah yang juga bersiap untuk bekerja mereka selalu mengucap salam ketika aku lewat, “Selamat Pagi Cikgu” sapa mereka, dengan senyuman aku menjawab “ Selamat Pagi Juga” mau berangkat kerja macik?” Hampir tiap hari aku bertutur sapa dengan warga, warga sangat baik, mereka sangat menerimaku disini, seperti berada dirumah sendiri, padahal ini Borneo, Ini Sabah Bukan Indonesia, Ya bukan indonesia ini di sabah malaysia, Aku bertugas mengajar anak-anak indonesia yang berada di sabah, Sudah tujuh bulan aku disini, mecoba merajuk mimpi bersama anak-anak indonesia yang ada disini, mereka adalah anak-anak pekerja sawit, mereka butuh pendidikan, mereka butuh sekolah demi masa depan.
Jangan pernah membayangkan lengkapnya fasilitas disini, ruang guru yang bercampur menjadi satu dengan ruang kelas siswa, ruang kelas tanpa sekat tanpa pembatas, mulai dari Tadika (setingkat TK), Darjah satu sampai Darjah enam (Setingkat Sekolah Dasar) saat pembelajaran kadang-kadang suara kami saling bersahutan antar guru, kami bertiga guru di Humana Cikgu Lorni dan Cikgu Umi beliau adalah guru asli dari Malaysia yang sama-sama mengajar di satu sekolah, satu guru merangkap beberapa kelas, kelas kami dibagi menjadi tiga, tadika satu dan tadika dua di ajar satu guru kelas satu samapi kelas tiga, kemudian kelas empat sampai kelas enam diajar oleh guru yang berbeda. Kendala terbesar menjadi guru disini adalah bahasa yang berbeda bahasa pengantar itulah yang kadang-kadang membuatku kesulitan dalam

menyampaikan materi, ditambah kurikulum yang berbeda, tugasku mengajar Pendidikan Agama Islam, Matematik dan bahasa inggris untuk tahap 2 (Kelas 4 sampai Kelas 6), tidak ada materi bahasa indonesia, PKn, IPS atau materi lain yang berasal dari indonesia, padahal mereka ini sebagian besar berasal dari indonesia, bagaimana mereka bisa tahu negaranya atau membanggakan negaranya, dengan negaranya sendiri mereka tidak kenal. Tugasku disini adalah untuk membuat mereka mengenal negaranya dan cinta dengan negaranya, dengan menyisipkan materi PKn, IPS dan yang lain dengan materi yang lain dalam pembelajaran.
Kondisi sebelum ada sekolah Banyak dari mereka yang terpaksa bekerja, mereka ikut bekerja di Blok-blok ladang sawit dengan membantu memetik biji sawit, kondisi mereka sangat miris dengan tidak mempunyai dokumen dokumen seperti paspor, akta kelahiran, mereka seperti imigran gelap, mereka selalu bersembunyi dari kejaran polis yang siap menangkap mereka, tidak hanya mereka bahkan orang tua mereka pun tidak punya dokumen, bahkan pernikahan mereka pun “di bawah tangan” tanpa surat resmi dari instansi terkait, mereka hanya dinikahkan oleh seseorang yang mereka sebut imam kampung mereka seperti terjebak dan terperangkap oleh keadaan yang memaksa mereka untuk tetap disana dan tidak bisa kemana mana Kondisi inilah yang terjadi di lapangan, menjadi guru disini harus mampu multi tasking dan multi talented, tidak hanya mengajar saja tapi harus bisa melayani masyarakat indonesia yang berada disini dan mengembalikan mereka ke negara Indonesia, memlaui pendidikan, formula ini dinilai sangat tepat karena akses pendidikanlah yang dapat mengantarkan mereka menggapai cita-citanya dan bisa memutus rantai anak-anak yang tetap tinggal disini.
Humana bukan satu-satunya sekolah yang berada di Ladang ini, disini juga ada CLC (Comunity Learning Center) aku sangat bersyukur ada CLC yang berdiri disini, CLC sepenuhnya pendidikan dengan menggunakan kurikulum Indonesia Semua muridnya juga berasal dari indonesia waktu pembelajaran dilaksanakan setelah pembelajaran di Humana berakhir Dari Pukul 14.00 sampai dengan 17.30 CLC disini setingkat SLTP jangan heran kalau kebanyak dari mereka yang sudah berusia lebih dari 15 tahun mereka ini telat masuk dan berhenti bersekolah, karena mereka banyak yang sudah bekerja yang kemudian bersusah payah untuk kambali sekolah pada awalnya mereka tidak mau sekolah karena bagi mereka sekolah hanya membuang waktu mereka, sekolah tidak akan mengubah nasib mereka, mereka lebih memilih untuk bekerja karena bisa mendapatkan uang yang lebih cepat daripada bersekolah, dengan susah payah usia anak sekolah aku data, aku singgah dari satu rumah ke rumah mengetuk satu pintu ke pintu yang lain untuk mengajak mereka kembali sekolah, sering kali mendapatkan penolakan dari orang tua mereka bahkan dari mereka sendiri, kalau aku menyerah disini bagaimana dengan nasib mereka kedepanya, aku mencoba meyakinkan mereka dan orang tua bagaimana pentingnya pendidikan bagaimana pentingnya masa depan mereka, sedikit demi sedikit usahamu membuahkan hasil diluar dugaan banyak dari mereka yang usianya sudah lewat juga menjadi tertarik untuk ikut sekolah, tapi sayang seribu sayang usia mereka yang membatasi mereka tidak bisa bersekolah reguler di CLC, dan aku arahkan mereka untuk menempuh Paket A Paket B ataupun Paket C, Tahun ini Alhamdulilah 10 Anak Paket A akan mengikuti Ujian dan 2 orang akan mengkiti ujian Paket C, Anak-anak ladang banyak dari mereka yang belum bisa membaca, dan menulis membaca bahkan mereka tidak bisa, kondisi masyarakat ladang yang tidak religius yang menyebabkan semua ini terjadi, orang tua mereka bekerja dari jam lima pagi sampai jam tiga sore,
mereka jauh dari kasih sayang orang tua dan didikan orang tua bicara mereka kasar dan banyak yang tidak menghormati orang tua mereka, kondisi ini harus dirubah untuk
tidak hanya dan menulis beribadahpun mereka belum pandai ini harus dirubah demi pembentukan karakter mereka, setiap hari saat istirahat aku ajak mereka ke mushola untuk praktik sembahyang, sedikit demi sedikit usahaku membuahkan hasil, mereka sekarang banyak yang sudah pandai sembahyang walaupun bacaan masih banyak yang salah, mushola panggung yang diberi nurul iman ini menjadi saksi bisu langkah perubahan hidup mereka, mushola yang sudah sangat tua ini jarang sekali di kunjungi masyarakat, bahkan tak jarang saat waktu sholat tiba mushola ini kosong tidak ada jamaah yang pergi ke mushola, perubahan harus dimulai sedikit demi sedikit dari siswa yang aku ajak setiap hari ke mushola membuat sedikit warga melihat dan ikut serta sholat berjamaah, bahkan sekarang mushola sudah di renovasi dan di cat ulang sehingga terlihat lebih baik dan menarik, sekarang sudah banyak yang ke mushola pada saat jam sembahyang walaupun kebanyakan di penuhi oleh anak-anak CLC.

Indonesia yang kurindukan
Saat pemebalajaran CLC berlangsung seringkali kusisipkan cerita tentang keindahan dan kekayaan indonesia, selalu memberikan motivasi bagi mereka untuk kembali pulang ke indonesia, melalui media gambar dan media Video banyak dari mereka yang tertarik untuk pulang ke negara asalnya, Banyak program yang ditawarkan untuk menggapai cita-cita
mereka salah satunya adalah program Sabah Bridge, Beasiswa SIKK dan Beasiswa Reaptriasi, banyak jalan untuk pulang ke indonesia, banyak cara untuk menggapai cita-cita banyak celah untuk menggapai masa depan yang lebih baik, banyak anak yang sudah kembali ke indonesia melalui jalan itu kebanyakan mereka sekarang sudah di Universitas dalam dan luar negeri, jalan yang membanggakan, Kembalilah nak selalu ada jalan, harapan itu masih ada.

MUSIK TIDA HANYA ASIK TAPI MENDIDIK


Musik adalah bahasa yang universal. Namun dalam dunia pendidikan, musik masih menempati second class dan masih kalah bergengsi dengan pelajaran lainya seperti matematika.

Padahal keterampilan memainkan alat musik bagi seorang anak dapat mennjadi salah satu indikator kecerdasan seorang anak. Anak yang pandai bermusik berarti mampu mengoptimalkan potensi otak kanannya. Otak kanan (right hemispere) berdasar pada spontanitas dan pengendalian fungsi mental. Misalnya emosi, intuisi, hubungan ruang dan dimensi, pemikiran devergen, gambar, musik dan irama, gerak dan tari. Sementara otak kiri (left hemisphere) merupakan pusat pengendali fungsi intelektualitas. Misalnya logika, daya analitis, daya ingat, pemikiran konvergen, bahas, perhitungan.

Musik dapat digunakan untuk menyeimbangkan otak kanandenagn otak kiri. Dan keseimbangan antara kedua bagian otak tersebut dapat mempengaruhi kecerdasan seorang anak.

Seorang biofisikawan dari sekolah musik di Providence, rhode island yang bernama martin garinder menyimpulkan bahwa pendidikan kesenian dapat berinteraksi dengan kecepatan seseorang menyerap mata pelajaran lainya, misalnya menulis, membaca, maupun menghitung. Pernyataan itu didapatkannya dari penelitian terhadap 96 anak sekolah yang berusia antara lima sampai tujuh (5-7) tahun empat puluh delapan (48) siswa pertama diikutkan dalam pelajaran ekstra tentang musik dan seni visual. Sedangkan 48 siswa sisanya hanya mengikuti pelajaran musik dan menggambar sesuai kurikulum standar.

Pada tahun yang pertama ke 48 siswa yang mendapatkan pelajaran ekstra musik itu belajar untuk bernyanyi dalam paduan suara sekaligus melatih ketepatan menembak nada dan irama. Pelajaran itu menjadi pelajaran yang menyenangkan bagi mereka, sekaligus melatih kepekaan emosional mereka. Kemudian pada tahun kedua grinder memberikan kepada mereka pelajaran membaca partitur not balok.

Dari penelitiannya selama dua tahun itu, secara mengejutkan garinder menemukan peningkatan kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang pesat kepada 48 siswa yang mendapatkan jam ekstra, dan hebatnya lagi hal tersebut terjadi kepada seluruh anak-anak baik yang tingkat kecerdasannya kurang maupaun pas-pasan. Di lain pihak, pada anak-anak yang tidak mendapatkan jam ekstra garinder tidak menemukan perkembangan yang berarti dalam hal membaca, menulis, dan berhitung, apalagi jika dibandingkan dengan mereka yang mendapatkan jam ekstra musik. (Krinamurti, 2001)

Ada satu hal yang luput dari perhatian kita, bahwa musik dapat bermanfaat untuk perkembangan seorang anak. Di saat semua pakar pendidikan berdiskusi dan berwacana tentang pengembangan karakter peserta didik, mereka melupakan musik. Sebagian pakar pendidikan, birokrat dan orang tua bagaikan berkacamata kuda memandang bahwa pendidikan moral keagamaanlah yang dapat mengembangkan karakter seorang anak. Mereka melupakan bahkan mengabaikan musik.

courtesy : mata air

LEMBAR KERJA SISWA: Antara Kreatif dan Pasif


Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. LKS biasanya berupa petunjuk, langkah untuk menyelesaikan suatu tugas, suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya. (Depdiknas; 2004;18) Lembar Kegiatan Siswa (LKS) merupakan suatu bahan ajar cetak berupa lembaran berisi tugas yang di dalamnya berisi petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan tugas. LKS dapat berupa panduan untuk latihan pengembangan aspek kognitif maupun panduan untuk pengembangan semua aspek pembelajaran dalam bentuk panduan eksperimen dan demonstrasi (Trianto, 2007:73). Sedangkan menurut Sutanto (2009) Lembar Kegiatan Siswa merupakan materi ajar yang dikemas sedemikian rupa agar siswa dapat mempelajari materi tersebut secara mandiri. Pengertian LKS yang dikemukakan oleh Badjo (1993:8) yaitu LKS ialah lembar kerja yang berisi informasi dan perintah/instruksi dari guru kepada siswa untuk mengerjakan suatu kegiatan belajar dalam bentuk kerja, praktek, atau dalam bentuk penerapan hasil belajar untuk mencapai suatu tujuan. Kemudian menurut Hidayah (2008:7) menjelaskan bahwa LKS merupakan stimulus atau bimbingan guru dalam pembelajaran yang akan disajikan secara tertulis sehingga dalam penulisannya perlu memperhatikan kriteria media grafis sebagai media visual untuk menarik perhatian peserta didik. Sedangkan isi pesan LKS harus memperhatikan unsur-unsur penulisan media grafis, hirarki materi (matematika) dan pemilihan pertanyaan-pertanyaan sebagai stimulus yang efisien dan efektif. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa LKS merupakan seperangkat tugas yang berupa lembaran yang didalamnya memuat petunjuki serta langkah-langkah dalam mengerjakan. Tujuan dan Manfaat Pembelajaran Menggunakan LKS Lembar Kerja Siswa Depdiknas dalam panduan pelaksanaan materi pembelajaran SMP (2008:42-45) alternatif tujuan pengemasan materi dalam bentuk LKS adalah : LKS membantu siswa untuk menemukan suatu konsep LKS mengetengahkan terlebih dahulu suatu fenomena yang bersifat konkrit, sederhana, dan berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari. LKS memuat apa yang (harus) dilakukan siswa meliputi melakukan, mengamati, dan menganalisis. LKS membantu siswa menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep yang telah ditemukan LKS berfungsi sebagai penuntun belajar LKS berisi pertanyaan atau isian yang jawabannya ada di dalam buku. Siswa akan dapat mengerjakan LKS tersebut jika membaca buku. LKS berfungsi sebagai penguatan LKS berfungsi sebagai petunjuk praktikum Menurut Darmojo dan Kaligis (1991:40) mengajar dengan menggunakan LKS dalam proses belajar mengajar memberikan manfaat, diantara lain memudahkan guru dalam mengelola proses belajar mengajar, misalnya dalam mengubah kondisi belajar yang semula berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada siswa (student centered). Pada proses pembelajaran yang berpusat pada guru akan terjadi interaksi satu arah dimana guru menerangkan, mendikte, dan memerintahkan, sedangkan siswa hanya akan mendengar, mencatat dan mematuhi semua perintah guru. Pada proses pembelajaran yang berpusat pada siswa akan terjadi interaksi antara siswa dengan guru, dan antarsiswa karena dalam pola ini siswa memperoleh informasi dari berbagai sumber, misalnya dari perpustakaan, luar sekolah atau pengamatannya sendiri. Manfaat LKS Lembar kegiatan siswa lainnya adalah dapat membantu guru dalam mengarahkan siswanya untuk dapat menemukan konsep-konsep melalui aktivitasnya sendiri atau dalam kelompok kerja. Selain itu, LKS juga dapat digunakan untuk mengembangkan ketrampilan proses, mengembangkan sikap ilmiah serta membangkitkan minat siswa terhadap alam sekitarnya. Akhirnya LKS juga memudahkan guru untuk melihat keberhasilan siswa dalam mencapai sasaran belajar. Memang, sejak adanya LKS di sekolah, efektifitas pengajaran guru semakin meningkat. Guru tinggal menerangkan pokok-pokok pembahasan yang ada dalam sebuah bahasan. Guru juga dapat mengembangkan materi dengan materi-materi tambahan yang dibaca oleh guru tersebut (tergantung sejauh mana kreatifitas guru itu). Dengan adanya LKS, siswa dituntut untuk lebih sering berlatih, berlatih, dan berlatih. Siswa jadi lebih terasah aspek kognitifnya dengan adanya latihan-latihan mandiri yang terdapat di dalam buku LKS. Di sisi lain, ada kelemahan-kelemahan dengan adanya LKS. Jika seorang guru tidak dapat masuk kelas (dengan berbagai alasannya), guru tinggal telpon atau sms ”Maaf, saya tidak bisa masuk, tolong sampaikan kepada anak kelas…… untuk mengerjakan tugas halaman sekian sampai sekian. Terima kasih”. Seorang guru yang profesional dan kompeten di bidangnya, ketika mengajar dengan menggunakan LKS dia tidak akan terpaku pada apa yang ada dalam LKS tersebut. Dia akan berusaha menambah dan memperluas wawasan sebagaimana yang telah dicanangkan dalam kurikulum. Namun sebaliknya, guru yang tidak kreatif hanya akan berpegang teguh pada apa yang ada dalam LKS yang dia gunakan, tanpa adanya upaya untuk mengembangkan dan menambah wawasan terhadap materi yang diajarkan. Sampai-sampai guru tidak bisa mengajar tanpa LKS, guru begitu mendewakan LKS, Jika ini terjadi, bagaimana jika kebetulan dalam suatu semester materi guru tersebut tidak ada LKS-nya? Lha apa gunanya sertifikasi guru profesional itu diadakan? Dalam observasi dilapangan banyak pembuat LKS yang kompetensinya tidak match dengan LKS yang dibuat, bahkan ada beberapa pembuat LKS yang hanya lulusan SMA yang tidak memahami LKS itu sendiri, pembuat LKS hanya mengumpulkan LKS-LKS yang telah dibuat untuk kemudian di copy di LKS yang akan dia buat, tentu saja hal itu tidak sesuai kurikulum yang berlaku, kurikulum KTSP ataupun kurikulum 2013 mensyaratkan guru harus mampu mengembangkan model pembelajaran sampai evaluasi pembelajaran termasuk didalamnya mengembangkan materi ajar, pemerintah juga sudah menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk membiayai guru sertifikasi, sertifikasi guru yang diharapkan pemerintah adalah dana untuk mengembangkan proses pembelajaran dan bukan dana untuk kesejahteraan guru, jadi tidak ada alasan untuk tidak mengembangkan perangkat pembelajaran sendiri, Kompetensi guru sebenarnya sudah cukup baik, hal itu dapat dilihat dari syarat-syarat guru yang minimal harus sarjana (S1) dan pada pemberian sertifikasi guru pemerintah sudah memberikan tes yang cukup susah, dan tidak semua guru bisa lulus dalam tes tersebut, hal ini menunjukkan guru sertifikasi adalah guru-guru professional terpilih yang mampu mengemban tanggung jawab sebagai seorang guru professional. Lalu pantaskah guru sertifikasi ini masih menggunakan LKS?